Setelah Lima Tahun, Vettel Juara Lagi di Monaco

Setelah Lima Tahun, Vettel Juara Lagi di Monaco

Monaco – Sebastian Vettel merasakan menjadi juara lagi di GP Monaco. Dia harus menunggu lima tahun untuk memenangi balapan di sirkuit jalan raya itu.

Saat membalap Monte Carlo, Minggu (28/5/2017) malam WIB, Vettel menjadi yang tercepat setelah memperbaiki posisi dari start kedua. Dia mencatatkan waktu satu jam 44 menit 44,340 detik.

Satu strategi pit yang jitu membuatnya bisa menyalip rekan setimnya, Kimi Raikkonen yang menempati pole.

Terakhir kali Vettel memenangi seri balapan di Monaco di musim 2011. Dia masih memperkuat Red Bull kala itu. Sementara bagi Ferrari, ini merupakan kemenangan pertama di Monaco sejak 2001.

Dengan hasil ini, Vettel mempertahankan tren selalu finis di podium sepanjang enam balapan musim ini. Dia menjadi pemenang di GP Australia dan Bahrain, serta menempati posisi dua saat membalap di China, Rusia dan Barcelona.

Vettel ada di posisi pertama klasemen pebalap dengan koleksi 129 poin. Sementara itu, Lewis Hamilton ada di posisi dua dengan raihan 104 poin.

Jalannya Balapan

Raikkonen melakukan start mulus. Dia berhasil mempertahankan posisi satu, diikuti oleh rekan setimnya, Vettel. Di belakang duo Ferrari itu ada Valteri Bottas, Max Verstappen, dan Daniel Ricciardo.

Satu insiden di lap pertama terjadi antara Pascal Wehrlein dan Jenson Button. Keduanya pun harus melakukan pit stop di awal-awal balapan. Insiden ini diselidiki oleh race director. Wehrlein akhirnya mendapatkan hukuman penalti 5 detik.

Sementara itu, Hamilton yang start dari grid belakang naik satu tingkat ke posisi 12 saat balapan berjalan dua lap.

Hingga balapan berjalan 15 lap atau nyaris seperlimanya, Raikkonen masih ada di posisi terdepan. berturut-turut dibelakangnya ada Vettel dan Bottas.

Nico Hulkenberg out di lap 17. Mobil Renault yang dia kendarai mengeluarkan asap. Dia akhirnya harus mengakhiri balapan lebih awal.

Bottas melakukan pit di lap 34. Dia menempati posisi lima saat kembali ke lintasan balapan. Sementara itu, Hamilton ada di posisi 10 saat lap 34.

Satu lap kemudian, Raikkonen melakukan pit, dia menempati posisi tiga saat masuk ke trek. Raikonen bisa mengambil posisi dua dari Ricciardo yang melakukan pit tiga lap kemudan.

Vettel melakukan pit stop saat balapan berjalan setengahnya. Dia bisa menjaga posisi pertama, hingga tetap menjadi pimpinan balapan saat kembali ke lintasan.

Hamilton akhirnya masuk pit di lap 41, dia menempati posisi tujuh sebelumnya. Saat kembali ke lintasan, Hamilton tetap di posisi yang sama.

Wehrlein menghantam dinding di tikungan. Mobilnya bertabrakan dengan mobil Button hingga memaksa mobil medis dan safety car masuk ke lintasan. Kondisi Wehrlein tak mengalami cedera serius.

Marcus Ericsson menyusul rekan setimnya, Wehrlein, gagal melanjutkan balapan di lap 65.

Di sisa balapan, Vettel terus mempimpin lomba hingga menjadi pebalap pertama yang menyentuh garis finis.

Cinta Mati untuk Sleman

 

“Cinta selalu bersemi, namun mantan tetaplah di hati” idiom tersebut tentu cocok bagi para pemuda yang belum bisa berpaling hati dari mantan kekasihnya. Dan dibalik gemerlapnya turnamen Piala Presiden 2017 yang baru saja dimulai akhir pekan lalu, (masih) ada cerita manis antara mantan pemain dengan klub lamanya.

PSS Sleman, yang berhak mengikuti Piala Presiden 2017 sebagai runner-up Indonesia Soccer Championship B 2016 dan juga mendapat kehormatan sebagai tuan rumah sekaligus penyelenggara partai pembuka Piala Presiden, masih dicintai oleh mantan pemain asingnya.

Adalah Kristian Adelmund, seorang meneer Belanda yang selalu mencintai PSS Sleman. Mengawali karir dari Feyenoord, sebelumnya ia memulai karirnya di Indonesia bersama PSIM Yogyakarta dan Persepam Madura United, lalu datang ke Sleman di Divisi Utama 2013. Hebatnya, ia langsung membawa PSS menjuarai Divisi Utama 2013.

Sayangnya, dualisme liga saat itu membuat PSS gagal naik kasta di musim berikutnya dan kembali berkiprah di Divisi Utama 2014. Seperti tak berhenti tersandung masalah, PSS kembali tersandung kasus sepak bola gajah saat melawan PSIS Semarang, lalu gagal berkompetisi di tahun 2015.

Akhirnya, romansa Adelmund dengan PSS terpaksa terhenti ketika regulasi ISC B 2016 melarang klub peserta merekrut pemain asing. Adelmund pun berlabuh di Lamongan, memperkuat Persela di kompetisi Torabika Soccer Championship 2016.

Sayangnya, di tengah musim Adelmund harus kembali ke Belanda untuk merawat ayahnya yang sedang sakit, otomatis menghentikan karir sepak bola Adelmund di Indonesia.

sumber: Twitter @K_Adelmund

Tahun pun berganti, Adelmund pun masih berdiam di Belanda, membangun karir diluar sepak bola sembari merawat ayahnya. Namun, cinta dia tetap untuk PSS Sleman, begitu pun cinta suporter Sleman terhadap dia.

Ketika operator Piala Presiden 2017 menyebutkan bahwa seluruh peserta boleh memainkan pemain asing, antusiasme pendukung PSS terhadap kembalinya Adelmund pun meluap. Sosial media Adelmund kebanjiran permintaan dari suporter untuk kembali ke Sleman. Sayangnya, cinta mereka belum bisa terlanjutkan. PSS sendiri mengisyaratkan tidak akan merekrut pemain asing dan menjadikan keikutsertaan mereka di Piala Presiden 2017 sebagai persiapan tim untuk menghadapi kompetisi 2017.

Walaupun begitu, Adelmund tetaplah memperhatikan aksi PSS Sleman. Terbukti dari akun Twitter-nya yang selalu meng-upload foto bahwa ia sedang menyaksikan live streaming pertandingan PSS Sleman. Bahkan, sebelum pertandingan PSS melawan Mitra Kukar, di salah satu quote tweet akun @JakartaCasual yang menyebutkan seharusnya dia bertahan di Sleman, Adelmund menulis “ I would have if I could have.”

Cuitan singkat yang membuktikan bahwa ia masih berhasrat untuk membela panji Super Elang Jawa. Kabar baiknya, ia akan terbang menuju Yogyakarta dari Amsterdam pada tanggal 19 Februari dan akan kembali 1 Maret, walaupun indikasinya hanya untuk perjalanan bisnis. Namun siapa tahu, ia akan “berbisnis” kembali dengan PSS Sleman?

Sumber : http://football-tribe.com/indonesia/2017/02/11/cinta-mati-untuk-sleman/

“Chants Adalah Doa”

Tidak hanya lantang tapi mendalami kata perkatanya jauh lebih penting. Ketika kita benar-benar pada kondisi untuk tidak memiliki apapun dan dilarang untuk membawa apapun. Suara yang dianugerahkan Tuhan adalah jawaban terakhir. Memadukan bunyi dengan isi hati. Terlebih untuk `dia` yang menjadi jantung hati ini. Menilik lebih dalam mengenai chants dan doa. Agar apa yang telah menjadi ucapan adalah cita dan impian agar menjadi kenyataan.

Dalam kisah klasik semasa kita masih bayi atau anda melihat seorang ibu sambil menggendong bayinya. Hal yang lain yang sering luput adalah, dengarkan ibu itu memainkan nada dengan syair berulang-ulang. Memberikan daya magis untuk bayi yang kelak menjadi harapannya. Tidak menghiraukan apakah ia mendengar dan memahami tapi percayalah pasti alam sekitar akan merekam dengan baik.

Mungkin diantara kita mengartikan doa juga berbeda-beda, kata per katanya kadang hanya diri kita yang paham. Terkadang juga tidak beraturan, yang penting berdoa. Apalah itu, tetapi yang bisa kita ambil adalah tujuan. Sama. Doa merupakan pertemuan yang khusyuk antara kita dengan Tuhan yang anda yakini. Memberikan sebentar ruang agar suasana benar-benar hening. Tujuannya agar apa yang menjadi harapan bisa tersampaikan dengan baik dan terwujud.

Banyak yang dapat diambil, Tribun ini memang tidak pernah mengajarkan kita untuk berdoa dengan baik dan benar. Tetapi satu yang dapat kita renungkan yaitu Fokus! Fokus memasuki alam pikiran masing-masing diantara kalian agar benar sadar dalam pengucapan yang telah dikatakan.  Fokus untuk mendalami jiwa kita baik pikiran maupun suasana hati. Apakah benar ini ucapan dari jiwa paling dalam atau hanya sekedar mengikuti orang samping anda?

Chants tidak bisa dipandang sebelah mata. Menjadikan chants segaris dengan doa itu juga tidak merugikan. Kadang kita terjebak dalam ego pribadi. Masih enggan untuk berdoa karena malu dan hal lainnya. Keadaan tidak nyaman yang dibuat seolah-olah disebabkan oleh sekeliling kita. Berdoa itu bisa dimana saja dengan kondisi apa saja. Justru kita juga sering terjebak dengan ketidaknyamanan karena dibuat oleh diri sendiri. Doa dilain pandangan masih terkesan tabu. Sebab tidak ada pembuktian. Orang banyak yang percaya semua harus dibuktikan dengan berusaha melalui tangan sendiri. Yaps, itu juga benar. Kita juga harus bisa membuktika dengan cara masing-masing. Melalui pikiran dan tenaga yang ada, kita buktikan bersama-sama. Menyisihkan ego itu penting. Fokus dan sadar adalah kunci. Menyadari bahwasanya kita adalah `pasukan pendoa` dari Tribun Selatan untuk PSS Sleman.

Sejauh mana doa akan menjadi kenyataan? Tunggu waktunya. Semua unsur akan bergerak sesuai porsinya. Merekam apa yang menjadi harapan sekelilingnya dan mempersiapkan semuanya agar terwujud pada waktu yang tepat. PSS Champione!

Sumber : http://bcsxpss.com/post/news/2016-08-20/chants-adalah-doa.html

Mandiri Berdiri, Berjanji Menghidupi

Memulai adalah hal yang sulit. Awal selalu menjadi sesuatu yang begitu menantang, bagi siapapun itu. Tidak terkecuali kami, pergerakan ini juga memiliki awal. Awal yang terjal, tidak seperti gunung yang tak pernah karam. Perjuangan, peluh, tangis, kecewa, jatuh, bahkan hancur; pernah dirasakan. Tapi semua itu tidak berarti apa-apa karena susunan kata yang membuat pergerakan ini patut diperjuangkan : Mandiri, Menghidupi, dan tentu saja; PSS.

Toko Besi, kami menyebutnya. Ruko Delima, warga sekitar menunjukknya. CSS seluruh Indonesia mengenalnya. Dari sudut pandang kecil, adalah sebuah toko kecil yang kami jadikan wadah untuk menjual berbagai macam merchandise dari BCSxPSS1976. Dilihat dari gambaran besar, toko ini adalah sebuah revolusi, roda penggerak, sebuah awal kebangkitan kembali tunas-tunas cinta kepada PSS Sleman. Tak terasa 5 tahun kami tumbuh, dari tunas-tunas yang di pupuk dengan optimisme, cinta dan dedikasi. 5 tahun berkarya, memberikan sumbangsih bagi landasan awal pergerakan kami : PSS Sleman. Di awal, kami tidak pernah menyangka pergerakan ini akan menjadi besar seperti saat ini. Dari mulai ruangan kecil yang berpindah-pindah, saat ini 5 cabang usaha telah tersebar di daerah Sleman, Surabaya, dan Jakarta.

Bukti nyata sumbangsih kami adalah pemberian royalti sebesar 20%  dari setiap pembelian satu item merchandise. Kami sisihkan untuk kebanggan kita bersama. 20 % yang tidak seberapa di tahun pertama, seperti anak tangga di tahun kelima. Angka tersebut mungkin tidak seberapa dibandingkan kebutuhan tim. Angka yang mungkin tidak akan banyak membantu operasional tim yang begitu tinggi. Tapi bukan angka yang ditonjolkan, namun apa yang kita berikan untuk PSS Sleman. Angka-angka tersebut terus meningkat seiring tahun, sama seperti cinta kami kepada kebanggan.

Kami bangga menjadi arus pergerakan “buy the original product” kami bangga dengan kesadaran sejawat, para pejuang tribun. Inovasi tidak berhenti sampai disini, kami berupaya menjadi pribadi visioner. Kedepannya, “kampung BCS“ menjadi final project untuk membentuk lingkungan yang bersinergi antara para sejawat. Harapan tersebut mulai kami wujudkan dari hal-hal kecil, perlahan tapi pasti. Kelak, kampung ini akan menjadi roda-roda perekonomian, membentuk sokongan, untuk PSS Sleman, di berbagai macam segi kehidupan.

Terakhir, di paragraf kelima ini, sekaligus pemungkas. kami selaku jajaran CSS mengucapkan terimakasih. Lima tahun tidak akan menjadi berarti, tanpa kalian di belakang kami. Teruslah menjadi bagian dari pergerakan ini, support kami dengan masukan, bukan dengan pujian. Keep spirit alive. Mandiri Menghidupi. PSS Sleman sampai mati.

Sumber : http://bcsxpss.com/post/news/2017-03-18/mandiri-berdiri-berjanji-menghidupi

“No Ticket No Game”

No Ticket No Game adalah gerakan positif untuk menghargai sebuah tim sepak bola dengan tangan kita sendiri untuk membeli ticket. Gerakan ini adalah bentuk penyelamatan untuk tim tim yang mulai bertumbangan karena APBD tak lagi mengucur ke kas Club peserta liga. No Ticket No Game tak bisa dipungkiri lahir di sleman tepatnya dari pendukung PSS Sleman. Kala itu PSS sedang mengalami krisis financial yang tentu membuat PSS Sleman kembang kempis dalam mengarungi kompetisi. Pendukung Sleman atau yang sering kita sebut dengan Sleman Fans membuat gerakan membantu keuangan club dengan secarik ticket dan di beri nama “No Ticket No Game”.

Sering kita jumpai sebuah pertandingan terlihat penuh sesak manusia di stadion namun miris ketika pemasukan hanya 30% dari jumlah penonton yang ada. Ya budaya “gratisan” adalah salah satu faktor terbunuhnya tim tim liga Indonesia dalam kondisi saat ini. Sleman Fans bukan tidak mudah menyadarkan bahwa membeli ticket itu penting, perjuangan mereka mengedukasi masyarakatnya perlu diapresiasi. Dari yang bangga bisa masuk gratisan kini di Sleman punya budaya baru malu menyaksikan pertandingan pemain sudah bekerja keras namun masuk tanpa ticket. “Malu” itulah yang mereka tekankan dalam menerapkan No Ticket No Game bahkan membeli ticket adalah sebuah kebangaan tersendiri bagi mereka saat ini. Kampanye mereka diapresiasi kedalam jersey pemain musim lalu yang menempel sebagai sponsor utama PSS Sleman. Satu satunya club di Indonesia pertama dengan sponsor sebuah ticket dari penontonya.

PSS rata rata meraup 400 – 500 juta disetiap pertandingan home mereka. Tak hayal jika mereka mampu mengontrak pemain sekaliber juan revi yang kini di gaji arema malang yang mempunyai sponsor banyak. Ini bukti bahwa No Ticket No Game adalah salah satu solusi keuangan club yang nyata. Namun miris melihat kampanye yang baik ini ternoda di Semarang ketika ticket mereka memampang jelas kata No Ticket No Game dengan gambar seorang caleg. Bukti nyata sepak bola Indonesia rusak hanya karena politik. No Ticket No Game sejatinya memerangi politik sepak bola dengan bertahan tanpa APBD yang syarat dengan politik kini pun ditunggangi politik. Semoga apa yang di contoh dari Sleman bukan hanya No Ticket No Game saja namun juga “No Politika” gerakan menendang politik/kampanye masuk ke ranah sepak bola. Yang bisa merubah dan menyelamatkan sepak bola Indonesia ya hanya kita sendiri, ditangan kita sendiri.

Sumber : http://www.kompasiana.com/helmuts/makna-asli-no-ticket-no-game_54f85fbfa333118f7e8b4753